Selasa, 29 Juli 2014

Proses Masuknya Agama Hindu-Buddha Di Indonesia

Proses Masuknya Agama Hindu-Buddha Di Indonesia
Agama Hindu 
  Pada permulaan tarikh masehi, di Benua Asia terdapat dua negeri besar yang tingkat peradabannya dianggap sudah tinggi, yaitu India dan Cina. Kedua negeri ini menjalin hubungan ekonomi dan perdagangan yang baik. Arus lalu lintas perdagangan dan pelayaran berlangsung melalui jalan darat dan laut. Salah satu jalur lalu lintas laut yang dilewati India-Cina adalah Selat Malaka. Indonesia yang terletak di jalur posisi silang dua benua dan dua samudera, serta berada di dekat Selat Malaka memiliki keuntungan, yaitu:
1.     Sering dikunjungi bangsa-bangsa asing, seperti India, Cina, Arab, dan Persia,
2.     Kesempatan melakukan hubungan perdagangan internasional terbuka lebar,
3.     Pergaulan dengan bangsa-bangsa lain semakin luas, dan
4.     Pengaruh asing masuk ke Indonesia, seperti Hindu-Budha.
Keterlibatan bangsa Indonesia dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran internasional menyebabkan timbulnya percampuran budaya. India merupakan negara pertama yang memberikan pengaruh kepada Indonesia, yaitu dalam bentuk budaya Hindu. Ada beberapa hipotesis yang dikemukakan para ahli tentang proses masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia.

1. Hipotesis Brahmana
Hipotesis ini mengungkapkan bahwa kaum brahmana amat berperan dalam upaya penyebaran budaya Hindu di Indonesia. Para brahmana mendapat undangan dari penguasa Indonesia untuk menobatkan raja dan memimpin upacara-upacara keagamaan. Pendukung hipotesis ini adalah Van Leur.

2. Hipotesis Ksatria
Pada hipotesis ksatria, peranan penyebaran agama dan budaya Hindu dilakukan oleh kaum ksatria. Menurut hipotesis ini, di masa lampau di India sering terjadi peperangan antargolongan di dalam masyarakat. Para prajurit yang kalah atau jenuh menghadapi perang, lantas meninggalkan India. Rupanya, diantara mereka ada pula yang sampai ke wilayah Indonesia. Mereka inilah yang kemudian berusaha mendirikan koloni-koloni baru sebagai tempat tinggalnya. Di tempat itu pula terjadi proses penyebaran agama dan budaya Hindu. F.D.K. Bosch adalah salah seorang pendukung hipotesis ksatria.

3. Hipotesis Waisya
Menurut para pendukung hipotesis waisya, kaum waisya yang berasal dari kelompok pedagang telah berperan dalam menyebarkan budaya Hindu ke Nusantara. Para pedagang banyak berhubungan dengan para penguasa beserta rakyatnya. Jalinan hubungan itu telah membuka peluang bagi terjadinya proses penyebaran budaya Hindu. N.J. Krom adalah salah satu pendukung dari hipotesis waisya.

4. Hipotesis Sudra
Von van Faber mengungkapkan bahwa peperangan yang tejadi di India telah menyebabkan golongan sudra menjadi orang buangan. Mereka kemudian meninggalkan India dengan mengikuti kaum waisya. Dengan jumlah yang besar, diduga golongan sudralah yang memberi andil dalam penyebaran budaya Hindu ke Nusantara.
Hipotesis Arus Balik dikemukakan oleh FD. K. Bosh. Hipotesis ini menekankan peranan bangsa Indonesia dalam proses penyebaran kebudayaan Hindu dan Budha di Indonesia. Menurutnya penyebaran budaya India di Indonesia dilakukan oleh para cendikiawan atau golongan terdidik. Golongan ini dalam penyebaran budayanya melakukan proses penyebaran yang terjadi dalam dua tahap yaitu sebagai berikut:
·          Pertama, proses penyebaran di lakukan oleh golongan pendeta Budha atau para biksu, yang menyebarkan agama Budha ke Asia termasuk Indonesia melalui jalur dagang, sehingga di Indonesia terbentuk masyarakat Sangha, dan selanjutnya orang-orang Indonesia yang sudah menjadi biksu, berusaha belajar agama Budha di India. Sekembalinya dari India mereka membawa kitab suci, bahasa sansekerta, kemampuan menulis serta kesan-kesan mengenai kebudayaan India. Dengan demikian peran aktif penyebaran budaya India, tidak hanya orangIndia tetapi juga orang-orang Indonesia yaitu para biksuIndonesia tersebut. Hal ini dibuktikan melalui karya seniIndonesia yang sudah mendapat pengaruh India masih menunjukan ciri-ciri Indonesia.

·          Kedua, proses penyebaran kedua dilakukan oleh golongan Brahmana terutama aliran Saiva-siddharta. Menurut aliran ini seseorang yang dicalonkan untuk menduduki golongan Brahmana harus mempelajari kitab agama Hindu bertahun-tahun sampai dapat ditasbihkan menjadi Brahmana. Setelah ditasbihkan, ia dianggap telah disucikan oleh Siva dan dapat melakukan upacara Vratyastome / penyucian diri untuk menghindukan seseorang
  Jadi hubungan dagang telah menyebabkan terjadinya proses masuknya penganut Hindu - Budha ke Indonesia. Beberapa hipotesis di atas menunjukan bahwa masuknya pengaruh Hindu - Budha merupakan satu proses tersendiri yang terpisah namun tetap di dukung oleh proses perdagangan.

Selain pendapat di atas, para ahli menduga banyak pemuda di wilayah Indonesia yang belajar agama Hindu dan Buddha ke India. Di perantauan mereka mendirikan organisasi yang disebut Sanggha. Setelah memperoleh ilmu yang banyak, mereka kembali untuk menyebarkannya. Pendapat semacam ini disebut Teori Arus Balik.
Pada umumnya para ahli cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa masuknya budaya Hindu ke Indonesia itu dibawa dan disebarluaskan oleh orang-orang Indonesia sendiri. Bukti tertua pengaruh budaya India di Indonesia adalah penemuan arca perunggu Buddha di daerah Sempaga (Sulawesi Selatan). Dilihat dari bentuknya, arca ini mempunyai langgam yang sama dengan arca yang dibuat di Amarawati (India). Para ahli memperkirakan, arca Buddha tersebut merupakan barang dagangan atau barang persembahan untuk bangunan suci agama Buddha. Selain itu, banyak pula ditemukan prasasti tertua dalam bahasa Sanskerta dan Malayu kuno. Berita yang disampaikan prasasti-prasasti itu memberi petunjuk bahwa budaya Hindu menyebar di Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi.
Masuknya pengaruh unsur kebudayaan Hindu-Buddha dari India telah mengubah dan menambah khasanah budaya Indonesia dalam beberapa aspek kehidupan.

1. Agama
Ketika memasuki zaman sejarah, masyarakat di Indonesia telah menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Masyarakat mulai menerima sistem kepercayaan baru, yaitu agama Hindu-Buddha sejak berinteraksi dengan orang-orang India. Budaya baru tersebut membawa perubahan pada kehidupan keagamaan, misalnya dalam hal tata krama, upacara-upacara pemujaan, dan bentuk tempat peribadatan.

2. Pemerintahan
Sistem pemerintahan kerajaan dikenalkan oleh orang-orang India. Dalam sistem ini kelompok-kelompok kecil masyarakat bersatu dengan kepemilikan wilayah yang luas. Kepala suku yang terbaik dan terkuat berhak atas tampuk kekuasaan kerajaan. Oleh karena itu, lahir kerajaan-kerajaan, seperti Kutai, Tarumanegara, dan Sriwijaya.

3. Arsitektur
Salah satu tradisi megalitikum adalah bangunan punden berundak-undak. Tradisi tersebut berpadu dengan budaya India yang mengilhami pembuatan bangunan candi. Jika kita memperhatikan Candi Borobudur, akan terlihat bahwa bangunannya berbentuk limas yang berundak-undak. Hal ini menjadi bukti adanya paduan budaya India-Indonesia.

4. Bahasa
Kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia meninggalkan beberapa prasasti yang sebagian besar berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Dalam perkembangan selanjutnya bahkan hingga saat ini, bahasa Indonesia memperkaya diri dengan bahasa Sanskerta itu. Kalimat atau kata-kata bahasa Indonesia yang merupakan hasil serapan dari bahasa Sanskerta, yaitu Pancasila, Dasa Dharma, Kartika Eka Paksi, Parasamya Purnakarya Nugraha, dan sebagainya.

5. Sastra
Berkembangnya pengaruh India di Indonesia membawa kemajuan besar dalam bidang sastra. Karya sastra terkenal yang mereka bawa adalah kitab Ramayana dan Mahabharata. Adanya kitab-kitab itu memacu para pujangga Indonesia untuk menghasilkan karya sendiri. Karya-karya sastra yang muncul di Indonesia adalah:
1.     Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa,
2.     Sutasoma, karya Mpu Tantular, dan
3.     Negarakertagama, karya Mpu Prapanca.

Agama Hindu
Agama Hindu berkembang di India pada ± tahun 1500 SM. Sumber ajaran Hindu terdapat dalam kitab sucinya yaitu Weda. Kitab Weda terdiri atas 4 Samhita atau “himpunan” yaitu:
1.     Reg Weda, berisi syair puji-pujian kepada para dewa.
2.     Sama Weda, berisi nyanyian-nyanyian suci.
3.     Yajur Weda, berisi mantera-mantera untuk upacara keselamatan.
4.     Atharwa Weda, berisi doa-doa untuk penyembuhan penyakit.
Di samping kitab Weda, umat Hindu juga memiliki kitab suci lainnya yaitu:
1.     Kitab Brahmana, berisi ajaran tentang hal-hal sesaji.
2.     Kitab Upanishad, berisi ajaran ketuhanan dan makna hidup.
Agama Hindu menganut polytheisme (menyembah banyak dewa), diantaranya Trimurti atau “Kesatuan Tiga Dewa Tertinggi” yaitu:
1.     Dewa Brahmana, sebagai dewa pencipta.
2.     Dewa Wisnu, sebagai dewa pemelihara dan pelindung.
3.     Dewa Siwa, sebagai dewa perusak.
Selain Dewa Trimurti, ada pula dewa yang banyak dipuja yaitu Dewa Indra pembawa hujan yang sangat penting untuk pertanian, serta Dewa Agni (api) yang berguna untuk memasak dan upacara-upacara keagamaan. Menurut agama Hindu masyarakat dibedakan menjadi 4 tingkatan atau kasta yang disebut Caturwarna yaitu:
1.     Kasta Brahmana, terdiri dari para pendeta.
2.     Kasta Ksatria, terdiri dari raja, keluarga raja, dan bangsawan.
3.     Kasta Waisya, terdiri dari para pedagang, dan buruh menengah.
4.     Kasta Sudra, terdiri dari para petani, buruh kecil, dan budak.
Selain 4 kasta tersebut terdapat pula golongan pharia atau candala, yaitu orang di luar kasta yang telah melanggar aturan-aturan kasta.
Orang-orang Hindu memilih tempat yang dianggap suci misalnya, Benares sebagai tempat bersemayamnya Dewa Siwa serta Sungai Gangga yang airnya dapat mensucikan dosa umat Hindu, sehingga bisa mencapai puncak nirwana.


Agama Buddha

Agama Buddha diajarkan oleh Sidharta Gautama di India pada tahun ± 531 SM. Ayahnya seorang raja bernama Sudhodana dan ibunya Dewi Maya. Buddha artinya orang yang telah sadar dan ingin melepaskan diri dari samsara.
Kitab suci agama Buddha yaitu Tripittaka artinya “Tiga Keranjang” yang ditulis dengan bahasa Poli. Adapun yang dimaksud dengan Tiga Keranjang adalah:
1.     Winayapittaka : Berisi peraturan-peraturan dan hukum yang harus dijalankan oleh umat Buddha.
2.     Sutrantapittaka : Berisi wejangan-wejangan atau ajaran dari sang Buddha.
3.     Abhidarmapittaka : Berisi penjelasan tentang soal-soal keagamaan.
Pemeluk Buddha wajib melaksanakan Tri Dharma atau “Tiga Kebaktian” yaitu:
1.     Buddha yaitu berbakti kepada Buddha.
2.     Dharma yaitu berbakti kepada ajaran-ajaran Buddha.
3.     Sangga yaitu berbakti kepada pemeluk-pemeluk Buddha.
Disamping itu agar orang dapat mencapai nirwana harus mengikuti 8 (delapan) jalan kebenaran atau Astavidha yaitu:
1.     Pandangan yang benar.
2.     Niat yang benar.
3.     Perkataan yang benar.
4.     Perbuatan yang benar.
5.     Penghidupan yang benar.
6.     Usaha yang benar.
7.     Perhatian yang benar.
8.     Bersemedi yang benar.
Karena munculnya berbagai penafsiran dari ajaran Buddha, akhirnya menumbuhkan dua aliran dalam agama Buddha yaitu:
1.     Buddha Hinayana, yaitu setiap orang dapat mencapai nirwana atas usahanya sendiri.
2.     Buddha Mahayana, yaitu orang dapat mencapai nirwana dengan usaha bersama dan saling membantu.
Pemeluk Buddha juga memiliki tempat-tempat yang dianggap suci dan keramat yaitu:
1.     Kapilawastu, yaitu tempat lahirnya Sang Buddha.
2.     Bodh Gaya, yaitu tempat Sang Buddha bersemedi dan memperoleh Bodhi.
3.     Sarnath/ Benares, yaitu tempat Sang Buddha mengajarkan ajarannya pertama kali.

4.     Kusinagara, yaitu tempat wafatnya Sang Buddha.

Proses Masuk Dan Berkembangnya Agama Islam Di Indonesia

Proses Masuk Dan Berkembangnya Agama Islam Di Indonesia
   Islam merupakan salah satu agama yang masuk dan berkembang di Indonesia.Indonesia adalah negara yang memiliki penganut agama Islam terbesar di dunia. Proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaitu teori Gujarat, teori Makkah dan teori Persia.Ketiga teori tersebut di atas memberikan jawaban tentang permasalah waktu masuknya Islam ke Indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara. Islam berkembang ke seluruh dunia dan pada abad ke-13 Islam mulai masuk ke Indonesia, setelah agama Hindu mengalami kemunduran.
A.Proses Awal Penyebaran Islam di Kepulauan Indonesia
   Agama Islam masuk dan berkembang di Nusantara secara damai. Ada beberapa sumber
sejarah mengenai masuknya Islam ke Nusantara.
 1.Abad ke-7 yang diberitakan dinasti Tang bahwa di Sriwijaya sudah ada perkampungan
muslim yang mengadakan hubungan dagang dengan Cina.
 2.Abad ke-11 adanya makam Fatimah binti Maimun yang berangka tahun 1028 di Leran,
Gresik, Jawa Timur.
 3.Abad ke-13 tepatnya tahun 1292 Marcopolo mengunjungi Kerajaan Samudra Pasai.
Berdasarkan berita dari Marcopolo pada tahun 1292 dan cerita dari Ibnu Batutah yang
mengunjungi Kerajaan Samudra Pasai pada abad ke-14, maka diperkirakan agama Islam
sudah masuk di Indonesia sejak abad ke-13. Di samping itu, batu nisan kubur Malik al Saleh
yang meninggal tahun 1297 juga memperkuat bukti-bukti bahwa pada saat itu telah terdapat
kerajaan Islam di Indonesia.

Ada beberapa pendapat mengenai asal mula Islam masuk ke Nusantara.
 1.Islam berasal dari Arab. Hal ini sesuai berita dari dinasti Tang, pedagang Arab yang
singgah di Sriwijaya untuk mengisi bahan bakar kemudian ke Cina.
 2.Islam berasal dari Persia. Hal ini karena di Indonesia ada aliran tasawuf seperti di Persia
(Iran).
 3.Islam berasal dari India (Gujarat) dengan alasan unsur Islam di Indonesia menunjukkan
kesamaan yang ada di India dan bentuk nisan Malik al Saleh menyerupai bentuk batu nisan
di India. Selain itu, ada tokoh yang beralasan dari Gujarat. Kelompok ini dipelopori oleh
Snouck Hurgronje dan diikuti oleh J.P. Moquute, R.A. Kern. Pendapat ini didasarkan pada:
  a.akibat kemunduran dinasti Abbasiah Bagdad oleh Hulagu pada tahun 1258,
  b.berita Marcopolo tahun 1292,
  c.berita Ibnu Batutah pada abad ke-14,
  d.nisan kubur Sultan Malik as Saleh yang berangka tahun awal Majapahit 1297,
  e.kedatangan Islam hingga terbentuknya masyarakat muslim di Indonesia sejak abad ke-13 berdasarkan pada ajaran tasawuf yang berasal dari Persia.

Islam menyebar di Indonesia melalui cara-cara berikut.
1.Melalui perdagangan
Pedagang-pedagang muslim yang
berasal dari Arab, Persia, dan India
telah ikut ambil bagian dalam jalan lalu
lintas perdagangan yang menghubung-
kan Asia Barat, Asia Timur, dan Asia
Tenggara, pada abad ke-7 sampai abad
ke-16. Para pedagang muslim yang
akhirnya juga singgah di Indonesia ini, ternyata tidak hanya semata-mata melakukan kegiatan dagang.
Inskripsi
Sebab-sebab Islam mudah berkembang di Nusantara
1.Syarat masuk Islam sangat mudah.
2.Upacara Islam sangat sederhana.
3.Agama Islam di Indonesia mudah menyesuaikan
dengan tradisi Indonesia.
4.Penyebaran Islam dilakukan secara damai.
5.Runtuhnya kerajaan Hindu- Buddha mempercepat
perkembangan Islam.
      Melalui hubungan perdagangan tersebut, agama dan kebudayaan Islam masuk ke
wilayah Indonesia. Pada abad kesembilan, orang-orang Islam mulai bergerak mendirikan
perkampungan Islam di Kedah (Malaka), Aceh, dan Palembang. Pada akhir abad ke-12,
kekuasaan politik dan ekonomi Kerajaan Sriwijaya mulai merosot karena didesak oleh
kekuasaan Kertanegara dari Singasari. Seiring dengan kemunduran Sriwijaya, para
pedagang Islam beserta para mubalignya semakin giat melakukan peran politik dalam
mendukung daerah pantai yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Sriwijaya. Menjelang
berakhirnya kerajaan Hindu-Buddha abad ke-13 berdiri kerajaan kecil yang bercorak
Islam, yaitu Samudra Pasai yang terletak di pesisir timur laut wilayah Aceh. Kemudian
pada awal abad ke-15 telah berdiri Kerajaan Malaka. Sejak saat itu, Aceh dan Malaka
berkembang menjadi pusat perdagangan dan pelayaran yang ramai dan banyak dikunjungi
oleh para pedagang Islam dan penduduk dari berbagai daerah terjadi interaksi yang
akhirnya banyak yang masuk Islam. Setelah pulang ke daerah asal, mereka menyebarkan
agama Islam ke daerahnya. Agama dan kebudayaan Islam dari Malaka menyebar ke
wilayah Sumatra Selatan, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Dalam suasana
demikian, banyak raja daerah dan adipati pesisir yang masuk Islam. Contohnya, Demak
(abad ke-15), Ternate (abad ke-15), Gowa (abad ke-16), dan Banjar (abad ke-16).
2.Melalui perkawinan
   Para pedagang muslim yang datang di Indonesia, ada sebagian di antara mereka yang
kemudian menetap di kota-kota pelabuhan dan membentuk perkampungan yang disebut
Pekojan. Perkawinan antara putri bangsawan dan pedagang muslim akhirnya berlangsung.
Perkawinan ini dilakukan secara Islam, yaitu dengan mengucapkan (menirukan) dua
kalimat syahadat. Upacara perkawinan berjalan dengan mudah karena tanpa pentasbihan
atau upacara-upacara yang panjang, lebar, dan mendalam.
Dalam Babad Tanah Jawi, misalnya, diceritakan perkawinan antara Maulana Iskhak
dan putri Raja Blambangan yang kemudian melahirkan Sunan Giri, sedangkan dalam
Babad Cirebon diceritakan perkawinan putri Kawunganten dengan Sunan Gunung Jati.
3.Melalui tasawuf
   Tasawuf adalah ajaran ketuhanan yang telah bercampur dengan mistik dan hal-hal
yang bersifat magis. Ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung
persamaan alam pikiran seperti pada mistik Indonesia–Hindu, antara lain, Hamzah
Fansuri, Nuruddin ar Raniri, dan Syeikh Siti Jenar.
4.Melalui pendidikan
   Pendidikan dalam Islam dilakukan dalam pondok-pondok pesantren yang dise-
lenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai, atau ulama-ulama. Pesantren ini merupakan
lembaga yang penting dalam penyebaran agama Islam karena merupakan tempat pembinaan
calon guru-guru agama, kiai-kiai, atau ulama-ulama. Setelah menamatkan pelajarannya di
pesantren, murid-murid (para santri) akan kembali ke kampung halamannya.
5.Melalui seni budaya
   Dalam menyebarkan agama Islam, sebagian wali menggunakan media seni budaya
yang sudah ada dan disenangi masyarakat. Pada perayaan hari keagamaan seperti Maulid
Nabi, misalnya, seni tari dan peralatan musik tradisional (gamelan) dipakai untuk
meramaikan suasana. Sunan Kalijaga yang sangat mahir memainkan wayang memanfaatkan
kesenian ini sebagai sarana untuk menyampaikan agama Islam kepada masyarakat, yaitu
memasukkan unsur-unsur Islam dalam cerita dan pertunjukannya. Senjata Puntadewa
yang bernama Jimat Kalimasada, misalnya, dihubungkan dengan dua kalimat syahadat
yang berisi pengakuan terhadap Allah dan Nabi Muhammad. Masyarakat yang menyaksikan
pertunjukan Sunan Kalijaga akhirnya mengenal agama Islam dan tertarik ingin menjadikan
Islam sebagai agamanya.
6.Melalui dakwah
   Penyebaran Islam di Nusantara, terutama di Jawa, sangat berkaitan dengan pengaruh
para wali yang kita kenal dengan sebutan wali sanga. Mereka inilah yang berperan paling
besar dalam penyebaran agama Islam melalui metode dakwah.
Konsep dan Aktualita
Wali sanga oleh masyarakat Islam Jawa dianggap sebagai manusia-manusia yang tinggi ilmu
agamanya dan memiliki kesaktian yang luar biasa. Dalam politik Sunan Kudus, misalnya, erat kaitannya
dengan perebutan kekuasaan di Demak dan Sunan Giri pun besar pengaruhnya dalam kekuasaan politik
di Hitu. Gelar sunan yang mereka sandang menunjukkan bahwa kedudukan mereka dapat disejajarkan
dengan raja.

B.Perkembangan Tradisi Islam di Berbagai Daerah dari Abad ke-15
sampai ke-18


   Pada masa sebelum datangnya Islam, pusat-pusat pemerintahan kerajaan di Indonesia
umumnya memiliki tanah lapang yang luas (alun-alun). Di empat penjuru tanah lapang itu
terdapat bangunan-bangunan penting, seperti keraton, tempat pemujaan, dan pasar. Jika
dilihat dari sudut arsitektur, masjid kuno beratap tingkat (meru) misalnya beratap dua yaitu
masjid Agung Cirebon, masjid Katangka di Sulawesi, masjid Muara Angke, Tambora dan
Marunda di Jakarta; masjid beratap tiga yaitu masjid Demak, Baiturrahman Aceh, masjid
Jepara; dan masjid beratap lima yaitu masjid Agung Banten. Masjid kuno Indonesia yang
mempunyai atap bertingkat telah mengundang pendapat beberapa ahli yang mengatakan
bahwa hal itu merupakan kelanjutan dari seni bangunan tradisional Indonesia lama. Ada
beberapa bukti yang mendukung pendapat itu, di antaranya sebagai berikut.
1.Bangunan-bangunan Hindu di Bali yang disebut Wantilan atapnya juga bertingkat.
2.Relief yang ada di candi-candi pada masa Majapahit juga terdapat ukiran yang meng-
gambarkan bangunan atap bertingkat.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa telah terjadi akulturasi antara seni bangun
tradisional Indonesia dengan seni bangun. Dalam seni ukir dan lukis terjadi akulturasi antara
seni ukir dan seni lukis Islam dengan seni lukis dan seni ukir tradisional Indonesia yang dapat
kita jumpai pada bangunan masjid-masjid kuno dan keraton. Ukir-ukiran yang biasa dipahatkan
pada tiang-tiang, tembok, atap, mihrab, dan mimbarnya dibuat dengan pola makara dan
teratai.
   Dalam perkembangan selanjutnya, muncul pula seni kaligrafi, yaitu seni melukis indah
dengan huruf Arab. Dalam seni tari dan seni musik juga terjadi akulturasi yakni beberapa
upacara dan tarian rakyat. Di beberapa daerah ada jenis tarian yang berhubungan dengan
nyanyian atau pembacaan tertentu yang berupa selawat atau slawat kompang. Bentuk-bentuk
tarian itu misalnya permainan dabus dan seudati. Permainan dabus adalah suatu jenis tarian
atau pertunjukan kekebalan terhadap senjata tajam dengan cara menusukkan benda tajam
tersebut pada tubuhnya. Tarian ini diawali dengan nyanyian atau pembacaan Alquran atau
selawat nabi. Permainan ini berkembang di bekas-bekas pusat kerajaan seperti Banten,
Minangkabau, Aceh. Adapun seudati adalah seni tradisional rakyat Aceh yang berupa tarian
atau nyanyian. Pertunjukan dilakukan oleh sembilan atau sepuluh orang pemuda dengan
memukul-mukulkan telapak tangan ke bagian dada. Dalam seudati pemain juga menyanyikan lagu-lagu tertentu yang isinya berupa selawat (pujian) kepada nabi. Selain seni tari, juga
berkembang seni musik yang berupa pertunjukan gamelan. Pertunjukan ini biasa dilakukan
pada upacara Maulud, yaitu peringatan untuk menghormati kelahiran Nabi Muhammad saw.
Pada peringatan ini, selain dinyanyikan pujian-pujian kepada Nabi Muhammad saw. juga
diadakan pertunjukan gamelan dan pencucian benda-benda keramat. Upacara ini biasanya
dilakukan di bekas pusat kerajaan, seperti Yogyakarta dan Surakarta yang disebut Gerebeg
Maulud. Upacara semacam ini di Cirebon biasa disebut Pajang Jimat. Upacara ini biasa
disampaikan dengan gemelan yang disebut Sekaten.
Masuknya kebudayaan Islam juga berpengaruh besar terhadap seni bangunan makam.
Bangunan makam pada orang yang meninggal terbuat dari batu bata tembok yang disebut jirat
atau kijing. Di atas jirat itu, khususnya bagi orang-orang penting didirikan sebuah rumah yang
disebut bangunan makam berupa jirat dan cungkup yang biasanya dihiasi dengan seni kaligrafi
(seni tulisan Arab) yang indah. Makam tertua di Indonesia yang bercorak Islam ialah makam
Fatimah binti Maimun di Leran (tahun 1082) dan diberi cungkup. Dinding cungkup diberi
hiasan bingkai-bingkai mendatar mirip model hiasan candi. Makam lain yang penting, antara
lain makam Sultan Malik al Saleh di Samudra Pasai, makam Maulana Malik Ibrahim, dan
makam para wali dan sultan yang lain.
C.Akulturasi Kebudayaan Indonesia dengan Kebudayaan Islam dalam
Aksara dan Seni Sastra
   Dalam perkembangan Islam, kesusastraan Jawa umumnya berbentuk tembang, sedangkan
di Sumatra dan Semenanjung Malaka berbentuk tembang dan gancaran. Hikayat yang digubah
dalam tembang disebut syair. Syair yang tertua tertulis tahun 1380 terpahat pada batu nisan
makam seorang Raja Puteri Pasai (di Minye Tujoh), terdiri atas dua bait yang setiap bait terdiri
atas empat baris.
Tulisan yang dipakai dalam kesusastraan Jawa adalah Jawa Kuno, sedangkan kesusastraan
di Sumatra umumnya ditulis dengan huruf Arab. Hasil karya sastra yang bernapaskan Islam,
antara lain buku tasawuf yang ditulis oleh Hamzah Fansyuri, Nur al-Din al-Raniri (Nuruddin
ar- Raniri), Abdul al-Rauf, dan Sunan Bonang; buku suluk primbon, pengantar fikih dan tafsir
Alquran yang ditulis oleh Abdul al-Rauf.
Bersamaan dengan berkembangnya ajaran tasawuf, muncullah tarekat-tarekat, antara
lain tarekat Qadariyah, Naqsyabandiah, Sammaniah, Syattariah, dan Rifa'i. Tarekat ialah
jalan atau cara yang ditempuh oleh kaum sufi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Karya
sastra lain yang dihasilkan pada masa Islam, antara lain Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon,
Sejarah Melayu, Bustanus Salatin, dan Gurindam Dua belas. Dilihat dari corak dan isinya,
kesusastraan yang berkembang sejak kedatangan Islam di Indonesia (zaman madya) dapat
dibedakan sebagai berikut.
 1.Hikayat
Hikayat adalah cerita atau dongeng yang berisi berbagai macam peristiwa sejarah.
Keajaiban dan peristiwa yang tidak masuk akal bahkan menjadi bagian terpenting
walaupun sering berpangkal pada seorang tokoh sejarah ataupun berkisar pada peristiwa
sejarah. Misalnya, Panji Inu Kertapati, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Bayan Budiman,
Hikayat Si Miskin, Hikayat Bahtiar, dan Hikayat Hang Tuah.
 2.Babad
Babad ialah cerita sejarah yang biasanya lebih berupa cerita daripada uraian sejarah
walaupun yang menjadi pola memang peristiwa sejarah. Di daerah Melayu, babad dikenal
dengan nama sejarah, silsilah (salasilah), dan tambo. Beberapa kitab babad diberi judul
Hikayat, misalnya Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Salasilah Perak, Sejarah Melayu,
Babad Giyanti, Babad Tanah Jawi, dan Sejarah Negeri Kedah.
 3.Suluk
Suluk adalah kitab yang membentangkan soal tasawuf. Sifatnya panteis (manusia
bersatu dengan Tuhan atau masyarakat Jawa mengenal sebagai manunggaling kawula
Gusti). Suluk merupakan hasil kesusastraan tertua dari zaman madya yang berasal dari
atau berhubungan erat dengan para wali.
Pada zaman madya, muncul kepandaian pahat memahat menjadi terbatas pada seni ukir
hias. Untuk seni hias, orang mengambil pola berupa daun-daunan, bunga-bungaan (teratai),
bukit-bukit karang, pemandangan dan garis geometri. Sering juga terdapat pada kalamakara
dan kalamarga (yaitu kijang menjadi pengganti makara). Hal itu sebenarnya kurang sesuai
dengan peraturan Islam, namun dapat juga diterima karena tidak dirasakan sebagai pelanggaran.
Begitu juga dengan gambar-gambar ular naga yang terdapat di sana-sini. Kedatangan Islam
menambah lagi satu pola, yaitu huruf-huruf Arab. Pola itu seringkali digunakan untuk
menyamarkan lukisan makhluk hidup, biasanya binatang dan bahkan juga untuk gambar
wayang.
Sebelum kebudayaan Islam memasuki wilayah Indonesia, sistem pemerintahan pada
kerajaan di Indonesia mendapat pengaruh budaya Hindu-Buddha. Setelah agama Islam
beserta kebudayaannya masuk dan berkembang di Indonesia, lambat laun berpengaruh
terhadap sistem pemerintahan. Pada saat kedatangan Islam, di Indonesia sudah berkembang
bandar-bandar perdagangan. Agama Islam mengalami perkembangan yang cepat melalui cara
perdagangan sehingga terbentuk masyarakat Islam. Semakin pesatnya pusat-pusat perdagangan
dengan masyarakatnya yang beragama Islam, berdirilah kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam

·          Teori Gujarat
  Teori berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan
pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:
a. Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran
Islam di Indonesia.
b. Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia –
Cambay – Timur Tengah – Eropa.
c. Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang
bercorak khas Gujarat.
Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard
H.M. Vlekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya
pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai.
Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah
singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah
banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang
menyebarkan ajaran Islam.

·          Teori Makkah
Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama
yaitu teori Gujarat.
Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan
pembawanya berasal dari Arab (Mesir).
Dasar teori ini adalah:
a. Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat
perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah
mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan
berita Cina.
b. Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh
mazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan
Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.
c. Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal
dari Mesir.
Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli
yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik
Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang
berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.

Teori Persia
Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya
berasal dari Persia (Iran).
Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam
Indonesia seperti:
a. Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein
cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. Di
Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut.
Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.
b. Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu
Al – Hallaj.
c. Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tandatanda
bunyi Harakat.
d. Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.
e. Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren adalah nama
salah satu Pendukung teori ini yaitu Umar Amir Husen dan P.A. Hussein
Jayadiningrat.
Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dan kelemahannya. Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalami perkembangannya pada abad 13. Sebagai pemegang peranan dalam penyebaran
Islam adalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).

Proses penyebaran Islam di Indonesia atau proses Islamisasi tidak terlepas dari
peranan para pedagang, mubaliqh/ulama, raja, bangsawan atau para adipati.
Di pulau Jawa, peranan mubaliqh dan ulama tergabung dalam kelompok para wali
yang dikenal dengan sebutan Walisongo atau wali sembilan yang terdiri dari:
1.Maulana Malik Ibrahim dikenal dengan nama Syeikh Maghribi menyebarkan Islam di Jawa Timur.
2.Sunan Ampel dengan nama asli Raden Rahmat menyebarkan Islam di daerah Ampel Surabaya.
3.Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel memiliki nama asli Maulana Makdum Ibrahim, menyebarkan Islam di Bonang (Tuban).
4.Sunan Drajat juga putra dari Sunan Ampel nama aslinya adalah Syarifuddin, menyebarkan Islam di daerah Gresik/Sedayu.
5.Sunan Giri nama aslinya Raden Paku menyebarkan Islam di daerah Bukit Giri (Gresik)
6.Sunan Kudus nama aslinya Syeikh Ja’far Shodik menyebarkan ajaran Islam di daerah Kudus.
7.Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Mas Syahid atau R. Setya menyebarkan ajaran Islam di daerah Demak.
8.Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Syaid menyebarkan islamnya di daerah Gunung Muria.
9.Sunan Gunung Jati nama aslinya Syarif Hidayatullah, menyebarkan Islam di Jawa Barat (Cirebon)

  Kerajaan islam di Indonesia

A.Kerajaan Samudra Pasai
   Dikenal dengan Samudera Pasai atau Samudera Darussalam, adalah kerajaan islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatra, kurang lebih di sekitar kota Lhokseumawe, Aceh Utara sekarang. Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Malik AS-Saleh, pada sekitar tahun 1267 dan berakhir dengan dikuasainya Pasai oleh Portugis pada tahun 1521. Raja pertama bernama Sultan Malik as-Saleh yang wafat pada tahun 696 H atau 1297 M, kemudian dilanjutkan pemerintahannya oleh Sultan Malik At-Tahrir. Kesultanan Samudera-Pasai juga tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya Abu Abdullah ibn Batuthah (1304–1368), musafir Maroko yang singgah di Samudera pada tahun 1345. Ibn Batuthah bercerita bahwa Sultan Malik az-Zahir di negeri Samatrahmenyambutnya dengan penuh keramahan. Menurut Ibn Batuthah, penduduk Samatrah (Samudera) menganut mazhab Syafi`i.
Belum begitu banyak bukti dan berita tentang kerajaan ini untuk dapat digunakan sebagai bahan kajian sejarah.

B.Kerajaan Aceh
   Berdiri menjelang keruntuhan dari Samudera Pasai yang pada tahun 1630 ditaklukkan oleh Majapahit hingga kemundurannya di abad ke-14. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh) dengan sultan pertamanya adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada pada Ahad, 1 Jumadil awal 913 H atau pada tanggal 8 September 1507. Dalam sejarahnya yang panjang itu (1496 - 1903), Aceh telah mengukir masa lampaunya dengan begitu megah dan menakjubkan, terutama karena kemampuannya dalam mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, komitmennya dalam menentang imperialisme bangsa Eropa, sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik, mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan, hingga kemampuannya dalam menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain.

C.Kerajaan Demak
   Kerajaan islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Kesultanan ini sebelumnya merupakan keadipatian (kadipaten) dari kerajaan Majapahit, dan tercatat menjadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya. Kesultanan Demak tidak berumur panjang dan segera mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan di antara kerabat kerajaan. Pada tahun 1568, kekuasaan Kesultanan Demak beralih ke Kerajaan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tingkir Salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Demak ialah Masjid Agug Demak, yang diperkirakan didirikan oleh para Walisongo. Lokasi ibukota Kesultanan Demak, yang pada masa itu masih dapat dilayari dari laut dan dinamakan Bintara (dibaca "Bintoro" dalam bahasa Jawa), saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah Periode ketika beribukota di sana kadang-kadang dikenal sebagai "Demak Bintara". Pada masa sultan ke-4 ibukota dipindahkan ke Prawata (dibaca "Prawoto").

D.Kerajaan Banten

   Berawal ketika Kerajaan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati dari Cirebon dibantu pasukan Demak menduduki pelabuhan Banten, salah satu dari pelabuhan Kerajaan Sunda, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Cirebon dan Demak. Menurut sumber Portugis, sebelumnya Banten merupakan salah satu pelabuhan utama Kerajaan Sunda selain pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang), Sunda Kelapa dan Cimanuk.

E.Kerajaan Pajang

  
adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa tengah sebagai kelanjutan Kerajaan Demak. Kompleks keraton, yang sekarang tinggal batas-batas fondasinya saja, berada di perbatasan Kelurahan Pajang, Kota Surakarta dan Desa Makamhaji,Kartasura,Surakarta.
Menurut naskah
 babad, Andayaningrat gugur di tangan Sunan Ngudung saat terjadinya perang antara Majapahit dan Demak. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yang bernama Raden Kebo Kenanga, bergelar Ki Ageng Pengging. Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kerajaan Demak.
Beberapa tahun kemudian Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh hendak memberontak terhadap Demak. Putranya yang bergelar Jaka Tingkir setelah dewasa justru mengabdi ke Demak.
Prestasi Jaka Tingkir yang cemerlang dalam ketentaraan membuat ia diangkat sebagai menantu Sultan Trenggana, dan menjadi bupati Pajang bergelar Hadiwijaya. Wilayah Pajang saat itu meliputi daerah Pengging (sekarang kira-kira mencakup Boyolali dan Klaten), Tingkir (daerah Salatiga), Butuh, dan sekitarnya.
Sepeninggal  tahun 1546, Sunan Prawata naik takhta, namun kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Panangsang bupati Jipang tahun 1549. Setelah itu, Arya Panangsang juga berusaha membunuh Hadiwijaya namun gagal.
Dengan dukungan Ratu Kalinyamat (bupati Jepara putri Sultan Trenggana), Hadiwijaya dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Arya Panangsang. Ia pun menjadi pewaris takhta Kerajaan Demak, yang ibu kotanya dipindah ke Pajang.

F.Kerajaan Mataram Islam
   adalah kerajaan Islam di Pulau Jawa yang pernah berdiri pada abad ke-17. Kerajaan ini dipimpin suatu dinasti keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Agene Pemanahan, yang mengklaim sebagai suatu cabang ningrat keturunan penguasa Majapahit. Asal-usulnya adalah suatu Kadipaten di bawah Kerajaan Pajang, berpusat di "Bumi Mentaok" yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas jasanya. Raja berdaulat pertama adalah Sutawijaya (Panembahan Senapati), putra dari Ki Ageng Pemanahan. Kerajaan Mataram pada masa keemasannya pernah menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya, termasuk Madura. Negeri ini pernah memerangi VOC di Batavia untuk mencegah semakin berkuasanya firma dagang itu, namun ironisnya malah harus menerima bantuan VOC pada masa-masa akhir menjelang keruntuhannya.
Mataram merupakan kerajaan berbasis agraris/pertanian dan relatif lemah secara maritim. Ia meninggalkan beberapa jejak sejarah yang dapat dilihat hingga kini, seperti kampung Matraman di Batavia/Jakarta, sistem persawahan di Pantura Jawa Barat, penggunaan hanacaraka dalam literatur bahasa Sunda, politik feodal di Pasundan, serta beberapa batas administrasi wilayah yang masih berlaku hingga sekarang.

G.KerajaanGowa
   Kerajaan Gowa atau kadang ditulis Goa, adalah salah satu kerajaan besar dan paling sukses yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Wilayah kerajaan ini sekarang berada di bawah Kabupaten Gowa dan beberapa bagian daerah sekitarnya. Kerajaan ini memiliki raja yang paling terkenal bergelar Sultan Hasanuddin, yang saat itu melakukan peperangan yang dikenal dengan Perang Makassar (1666-1669) terhadap VOC yang dibantu oleh Kerajaan Bone yang dikuasai oleh satu wangsa Suku Bugis dengan rajanya Arung Palalaka Perang Makassar bukanlah perang antarsuku karena pihak Gowa memiliki sekutu dari kalangan Bugis; demikian pula pihak Belanda-Bone memiliki sekutu orang Makassar. Perang Makassar adalah perang terbesar VOC yang pernah dilakukannya di abad ke-17.

H.Kerajaan Ternate
   Kerajaan Gapi atau yang kemudian lebih dikenal sebagai Kerajaan Ternate (mengikuti nama ibukotanya) adalah salah satu dari 4 kerajaan Islam di Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada 1257. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara antara abad ke-13 hingga abad ke-17. Kesultanan Ternate menikmati kegemilangan di paruh abad ke -16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya. Di masa jaya kekuasaannya membentang mencakup wilayah Maluku, Sulawesi utara, timur dan tengah, bagian selatan kepulauan Filipina hingga sejauh Kepulauan Marshall di pasifik.

I.Kerajaan Tidore
Kerajaan Tidore
 adalah Kerajaan islam yang berpusat di wilayah KOta Tidore, Maluku Utara, Indonesia sekarang. Pada masa kejayaannya (sekitar abad ke-16 sampai abad ke-18), kerajaan ini menguasai sebagian besar Halmahera selatan, Pulau Bone, Ambon, dan banyak pulau-pulau di pesisir Papua barat.
Pada tahun 1521, Sultan Mansur dari Tidore menerima Spanyol sebagai sekutu untuk mengimbangi kekuatan Kerajaan Ternate saingannya yang bersekutu dengan Portugis. Setelah mundurnya Spanyol dari wilayah tersebut pada tahun 1663 karena protes dari pihak Portugis sebagai pelanggaran terhadap Perjanjian Tordesillas 1949, Tidore menjadi salah kerajaan paling independen di wilayah Maluku. Terutama di bawah kepemimpinan Sultan Saifuddin (memerintah 1657-1689), Tidore berhasil menolak pengusaan  VOC terhadap wilayahnya dan tetap menjadi daerah merdeka hingga akhir abad ke-18